PENDIDIKAN ISLAM TRADISIONAL DI LANGGHAR AL-HIDAYAH DAN LANGGHAR AL-IKHWAN ORAY PAMAROH KADUR PAMEKASAN

Zainal Abidin

Abstract


Langghar as two non-formal education institutions deserves to be maintained and developed. Among the aspects that need to be maintained is the method of traditional Islamic education in Langghar in order to always instill Islamic values from an early age. Whereas among the aspects that need to be developed are facilities and infrastructure so that the implementation of Islamic education in Langghar continues. The results show that: first, the method used in Langghar al-Hidayah is a collaborative method. The method used in Langghar al-Ikhwan is a traditional method. Second, the reason Langghar al-Hidayah still maintains the method because it is able to instill Islamic values in the santri, while the reason for the Langghar al-Ikhwan is because the method is able to educate students to memorize the basics of aqeedah, fiqh and morals. While the inhibiting factors are the same, namely the santri stops or is lazy to recite when he wants to continue his education to junior high school, the level of delinquency of the santri and the intelligence of the different santri. While the supporting factors are in Langgharal-Hidayah, namely the teacher's experience and the book used. Whereas in Langghar al-Ikhwan, there is a free teacher experience.

[Langghar sebagai dua lembaga pendidikan nonformal layak untuk dipertahankan dan dikembangkan. Di antara aspek yang perlu dipertahankan adalah metode pendidikan Islam tradisional di Langghar agar senantiasa menanamkan nilai-nilai keislaman sejak dini. Sedangkan di antara aspek yang perlu dikembangkan adalah sarana dan prasarana agar pelaksanaan pendidikan Islam di Langghar tetap berjalan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: pertama, metode yang digunakan di Langghar al-Hidayah adalah metode kolaboratif. Adapun metode yang digunakan di Langghar al-Ikhwan adalah metode tradisional. Kedua, alasan Langghar al-Hidayah tetap mempertahankan metode tersebut karena mampu menanamkan nila-nilai keislaman dalam diri santri, sedangkan alasan Langghar al-Ikhwan karena metode tersebut mampu mendidik santri menghafal dasar-dasar akidah, fikih dan akhlak. Sedangkan faktor penghambatnya sama, yaitu santri berhenti atau malas mengaji ketika sudah mau melanjutkan pendidikan ke SMP, tingkat kenakalan santri dan kecerdasan santri yang berbeda. Sedangkan faktor pendukungnya yaitu kalau di Langgharal-Hidayah yaitu pengalaman guru dan kitab yang digunakan. Sedangkan di Langghar al-Ikhwan yaitu pengalaman gurudan gratis]


Keywords


Pendidikan Islam tradisional; langghar; tradisional

References


Abd. Halim,Muhammad.2002. Memahami al-Qur’an “Pendekatan Gaya, Tema dan Marja’ ”. Bandung: Mizan.

Achmadi. 2010. Ideologi Pendidikan Islam Paradigma Humanisme Teosentris. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Arifin, M. 2003. Ilmu Pendidikan Islam: Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner. Jakarta: Bumi Aksara.

Azra, Azyumardi. 1999. Esai-Esai Intelektual Muslim dan Pendidikan Islam. Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu.

----------------------. 1998. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII. Bandung: Mizan.

D. Marimba, Ahmad. 1989. Pengantar Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: al-Ma’arif.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1995. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Humam, H. As’ad. 1990. IQRO’ Cara Cepat Belajar Membaca Al-Qur’an. Yogyakarta: LPTQ Nasional.

Langgulung, Hasan. 2003. Asas-Asas Pendidikan Islam. Jakarta: Pustaka al-Husna.

M. Chols, Jhon and Hassan Sadily. 1976. Kamus Inggris-Indonesia. Jakarta:PT. Gramedia Pustaka Utama.

Mardiyah. 2012. Kepemimpinan Kiai dalam Memelihara Budaya Organisasi. Yogyakarta: Aditya Media Publishing.

Nata, Abuddin. 2001. Sejarah Perkembangan dan Pertumbuhan Lembaga-Lembaga Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: PT. Gramedia.

Nizar, Samsul. 2008. Sejarah Pendidikan Islam: Menelusuri Jejak Sejarah Pendidikan Era Rasulullah Sampai Indonesia. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

PeraturanPemerintahNomor 55 tahun 2007 BAB. III Pasal 24 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan.

Ramayulis, H. 2002. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia.

Saebani, Beni Ahmad & Akhdiyat, Hendra. 2012. Ilmu Pendidikan Islam. Bandung: Pustaka Setia.

Salim, Moh. Haitami & Syamsul Kurniawan. 2012. Studi Ilmu Pendidikan Islam. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.

Samad, Duski. 2003. “Tradisionalisme Islam di Tengah Modernisme: KajianTentang Kontinuitas, Perubahan, dan Dinamika Tarekat di Minangkabau”. Disertasi UIN Syarif Hidayatullah.

Sardiman. 2011. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Sukardo, M. Ukim Komarudin. 2009. Landasan Pendidikan Konsep dan Aplikasinya. Jakarta: RajaGrafindo Persada.

Sulthon, Muhadjir. 1992/1993. Jakarta: Depag RI.

Syafaat, Aat, et. al. 2008. Peranan Pendidikan Agama Islam dalam Mencegah Kenakalan Remaja (Juvenilf Delinquency). Jakarta: Rajawali Pers.

Umar, Muntaha. 2009. Buku Ajar Metodologi Pembelajaran al-Qur’an. Pamekasan: STAIN Press.

Usman, M. Basyiruddin. 2002. Metode Pembelajaran Agama Islam. Jakarta: Ciputat Press.

http://aritakesi.blogspot.co.id/2012/10/makalah-perbandingan-pendidikan di.html?m=1 (diakses Minggu 21 Januari 2018, pukul: 21.00 WIB).




DOI: http://dx.doi.org/10.19105/islamuna.v5i2.2083

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


 


                                     
 

Islamuna: Jurnal Studi Islam
ISSN: 2407-411X (p); 2443-3535 (e)
Pascasarjana
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura
Pamekasan Indonesia
 
Creative Commons License
All publications by Islamuna: Jurnal Studi Islam are licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License